Jumat, 21 Juni 2013

1000 Km Menanti Titik Balik PLN Kalbar



Hujan rintik menyambut kedatangan sejumlah jurnalis di Kantor PLN Wilayah Kalimantan Barat, di Jalan Adisucipto, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, Kamis (18/4) sore.


Odometer di mobil yang membawa rombongan berjumlah 14 orang itu, menunjukkan angka hampir seribu kilometer.


Sebuah perjalanan panjang empat hari menyusuri wilayah pesisir, pedalaman, dan pehuluan di Kalimantan Barat untuk melihat kesiapan PLN dalam meningkatkan pelayanan ke pelanggan. Baik dari sisi distribusi, transmisi maupun pembangkit.


Kesimpulannya, 2014 adalah sebuah titik balik PLN di Kalbar. Tahun ini menjadi bagian awal dari sebuah proses panjang yang menghabiskan banyak waktu, uang, pikiran dan tenaga seiring mulai beroperasinya beberapa pembangkit listrik baru skala menengah.


Di tengah-tengah semakin tingginya harga bahan bakar minyak, PLN di Kalbar masih berkutat dengan penggunaan high speed diesel (HSD) meski sebagian mesin pembangkit sudah memakai marine fuel oil (MFO) yang relatif lebih murah.


Kehadiran Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) diharapkan mampu menekan biaya produksi yang selama ini mencapai kisaran Rp3ribuan per kilo watt hour (kWH). Jauh diatas harga jual listrik, yang rata-rata di bawah angka seribu rupiah per kWH.


General Manajer PLN Wilayah Kalbar, Daniel S Bangun mengatakan ingin menunjukkan ke publik apa saja yang sudah dilakukan PLN selama ini sekaligus memperlihatkan kondisi PLN sebenarnya. "Tidak ada yang ditutup-tutupi, kami ingin transparan," kata Daniel S Bangun sesaat menjelang keberangkatan "Safari Jurnalis" di Gedung PLN Wilayah Kalbar, Senin (15/4) pagi.




Kunjungan dimulai dari melihat kondisi di Pusat Listrik (PL) Sungai Raya yang memasok sebagian kebutuhan Sistem Khatulistiwa yang mendominasi beban yang dilayani PLN Wilayah Kalbar mencakup Kota Pontianak dan sekitarnya, Mempawah, Singkawang, Sambas, Bengkayang dan sebagian Ngabang.


Manajer PLN Sektor Kapuas, Idaman mengatakan, ada 85 Mega Watt (MW) daya yang dihasilkan di PL Sungai Raya. Selain milik sendiri, PLN juga menyewa dari beberapa perusahaan atau membeli listrik dari penyedia yang ditempatkan di lokasi yang sama.


Sayangnya, sebagian mesin pembangkit yang dimiliki PLN, sudah berusia tua. "Ada mesin yang masih beroperasi sejak tahun 1987. Secara teknis sudah tidak baik, tetapi masih digunakan dan dibutuhkan," kata dia. Mesin yang dimiliki PLN di PL Sungai Raya, menghasilkan energi listrik sebesar 25 MW.


Kondisi serupa juga terlihat di PL Siantan, yang terletak di Jalan Khatulistiwa, Pontianak Utara. Bahkan ada mesin pembangkit yang sudah berusia 37 tahun, masih digunakan. Jumlahnya tiga unit, dengan daya terpasang 3,5 MW. Di PL Siantan pula terdapat mesin pembangkit yang seharusnya menggunakan gas, tetapi diubah dan bahan bakar utamanya HSD. Kapasitasnya 30 MW dan menjadi satu unit mesin yang terbesar yang dioperasikan PLN di Kalbar.


Manajer Unit PL Siantan, Supar mengatakan, dampaknya, pemakaian bahan bakar menjadi sangat boros. "Satu jam operasi, PLTG 30 MW itu butuh 10 ton solar," ungkap dia. Seharusnya, mesin tersebut dioperasikan hanya pada saat beban puncak, yakni antara pukul 18.00 - 22.00 setiap hari. Namun karena kebutuhan energi listrik yang tinggi sementara kemampuan pembangkit sangat terbatas, mesin itu dioperasikan mulai pagi dan berhenti tengah malam.

Jumlah mesin pembangkit yang terbatas membuat mahfum kalau periodisasi perawatan terkadang terlewati. Secara teori, sebuah mesin pembangkit menjalani perawatan "top overhoul" setelah beroperasi selama 6 ribu jam. "Semi overhoul" kalau beroperasi 12 ribu jam, dan "mayor overhoul" setelah beroperasi selama 18 ribu jam. Masing-masing membutuhkan waktu perawatan selama 17 hari, 24 hari dan 30 hari.


Para punggawa di PL milik PLN pun harus memutar otak dan adu cepat agar mesin tetap beroperasi dan seminimal mungkin tanpa mengurangi pasokan ke pelanggan.


Salah satu solusi dari keterbatasan suplai listrik adalah dengan membangun pembangkit baru. PLN mempunyai sejumlah proyek pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap di Kalbar. Skala besar, di tiga lokasi yakni PLTU Parit Baru, 2 x 50 MW; PLTU Tanjung Gundul 2 x 27,5 MW; dan PLTU Site Bengkayang 2 x 55 MW. Sedangkan skala kecil, PLTU Sungai Batu 2 x 7 MW; PLTU Sungai Ringin 3 x 7 MW, dan PLTU Ketapang 2 x 10 MW. Satu lagi di Tayan, yakni PLTGB 6 MW.


Faktor Lahan

Proyek PLTU yang terdekat dengan Kota Pontianak ada di Parit Baru, Jungkat, Kabupaten Pontianak. Jaraknya sekitar 17 kilometer dari pusat Kota Pontianak. Wayan Semudiarse menjadi manajer proyek dari PLTU yang diberi nama PLTU Kalbar 1 tersebut.


Ia mengakui, ada sejumlah kendala dalam pembangunan PLTU 2 x 50 MW. Salah satunya tekstur lahan serta ketersediaan material. "Proyek ini tertunda setahun," kata Wayan Semudiarse. Kondisi tanah yang labil membuat pemancangan tiang pondasi menjadi lebih banyak dan panjang. "Sampai 45 meter, ada yang baru mencapai bagian tanah yang keras," ungkap dia.


Selain itu, air tanah harus disedot sambil ditimbun mengunakan material yang diambil di daerah Peniraman, sekitar 30 kilometer dari lokasi PLTU tersebut. Tanah yang ditimbun harus "tenggelam" hingga 1,4 meter untuk memastikan kekuatannya.


Kebutuhan material seperti kerikil dalam jumlah besar juga tidak mampu dipenuhi pemasok lokal sehingga sebagian diantaranya didatangkan dari Jawa. Saat ini, realisasi pembangunan sudah 72,4 persen. Wayan Semudiarse menargetkan akhir tahun 2014 satu unit mesin dapat beroperasi.


Menjelang senja, rombongan tiba di lokasi pembangunan PLTU Tanjung Gundul. Terletak tak jauh dari pantai yang berhadapan dengan Laut Natuna, di Kabupaten Bengkayang. Sebagian pekerja terlihat meninggalkan lokasi pembangunan, menuju barak yang dibangun tak jauh dari situ.


Manajer Proyek PLTU Tanjung Gundul, Seger Yohanes mengatakan, secara desain tidak ada masalah untuk pembangunan pembangkit berkapasitas 2 x 27,5 MW itu. "Realisasi pembangunan, 64,21 persen. Kami tetap menargetkan akhir tahun ini sudah bisa beroperasi," katanya. Saat ini, pembangunan memasuki tahap konstruksi mekanikal elektrikal. Tekstur tanah yang keras memudahkan pemasangan pondasi PLTU.


Tak jauh dari situ, akan dibangun PLTU Site Bengkayang berkapasitas 2 x 55 MW. Pembangkit ini masih dalam tahap pembebasan lahan dan diharapkan terwujud pada tahun 2016.


Tenggelamnya matahari di ufuk barat menghantarkan rombongan meninggalkan PLTU Tanjung Gundul dan PLTU Site Bengkayang. Tujuan berikutnya, ke PLN Area Singkawang. Waktu Magrib hampir usai saat rombongan tiba di PL Sungai Wie, Singkawang.


Supervisor Operasi PL Singkawang, Edy Haryanto menjelaskan, sistem kelistrikan di Kota Singkawang, interkoneksi dengan Kota Pontianak. Kondisi itu memungkinkan terjadinya kelebihan dalam suplai listrik di kota berjuluk seribu kelenteng tersebut. PL Singkawang juga memasok listrik untuk Kabupaten Sambas dan Bengkayang. Beban puncak tercatat sebesar 43 MW.


Manajer Area PLN Singkawang, Arief Kuncoro menegaskan komitmen dalam menjaga pelayanan listrik di wilayah itu. Menurut dia, Kota Singkawang mengalami pertumbuhan ekonomi yang pesat dan harus ditunjang oleh layanan listrik yang baik.


Menuju Pehuluan

Selasa (16/4) pagi, rombongan menuju PLTU Sungai Batu di Kabupaten Sanggau. Rutenya dari Kota Singkawang menuju Kota Bengkayang, lalu memasuki jalan kabupaten yang sempit ke Kota Ngabang, ibu kota Kabupaten Landak.


Jalanan memang sempit. Saat berpapasan dengan kendaraan lain dari arah berlawanan, harus perlahan agar tidak saling bersentuhan. Selain sempit, juga berkelok-kelok menyusuri perbukitan. Bagi yang tidak biasa dan kondisinya kurang fit, risikonya mabuk darat. Namun jalan itu adalah rute tersingkat dari Kota Singkawang menuju Sanggau.


Kondisi jalannya sendiri mulus dan jarang ditemui kerusakan. Memasuki Kota Ngabang, tepat tengah hari. Setelah beristirahat sejenak, perjalanan dilanjutkan menuju PLTU Sungai Batu, Kabupaten Sanggau. Selepas Kabupaten Landak, kondisi jalan mulai tak nyaman. Disana-sini rusak dan berdebu.


Sekitar pukul 15.00 WIB, rombongan tiba di pertigaan Sungai Batu. Untuk menuju lokasi, harus menggunakan kendaraan berpenggerak empat roda. Jarak yang ditempuh sekitar 14 kilometer. Kondisi jalan, tanah merah, berbatu, naik turun bukit, dan sulit dilalui saat hujan.

Pihak pelaksana proyek sudah meminta bantuan perbaikan dari pemerintah daerah setempat mengingat jalan tersebut merupakan kewenangan kabupaten. Tujuannya untuk mendukung kelancaran proyek tersebut. Di Sungai Batu, juga terdapat penampungan BBM milik Pertamina yang hingga kini belum dioperasikan. Sekitar 45 menit, akhirnya rombongan mencapai PLTU Sungai Batu. Letaknya tepat di tepi Sungai Kapuas.


Arif Nurhadi, dari Unit Pelaksana Konstruksi PLTU Kalbar III menjelaskan, PLTU Sungai Batu sudah mencapai 85 persen. "Sesuai target, Unit 1 akan masuk ke sistem pada Juli 2013," kat Arif Nurhadi. Sedangkan Unit 2, masuk ke sistem pada September 2013. Kalau sesuai target, maka Kabupaten Sanggau akan menjadi lokasi pertama dioperasikannya PLTU di Kalbar.

Manajer PLN Area Sanggau, Hendrig Erig mengatakan, PLTU itu akan menjadi pemasok utama energi listrik di Kabupaten Sanggau dan sekitarnya. Ia pun tak sabar menanti beroperasinya mesin tersebut. "Pemakaian HSD dapat berkurang sampai 40 ton per hari," ujar pria asal Toraja, Sulsel itu.


Selain penghematan biaya bahan bakar, ia juga bersiap untuk menggenjot penambahan pelanggan baru hingga akhir tahun. "Dari tahun 2010, dalam kurun waktu tiga tahun, kami menargetkan penambahan 100 ribu pelanggan baru di Area Sanggau," katanya optimistis.


Ia yakin hal itu tercapai karena didukung oleh "pasukan" yang siap untuk bergerak lebih cepat melayani pelanggan. "Pertumbuhan pelanggan di Area Sanggau mencapai 30 persen per tahun. Dan ini termasuk yang tercepat, bahkan di Indonesia," ujar Hendrig Erig di kantornya, Selasa malam.


Rabu (17/4) pagi, rombongan melanjutkan perjalanan ke Sintang untuk melihat kesiapan PLTU Sungai Ringin berkapasitas 3 x 7 MW. PLTU ini akan menjadi yang terbesar di wilayah pehuluan Kalbar. Sesaat meninggalkan Kota Sanggau, perjalanan harus melewati ruas Sanggau - Semuntai. Mobil tidak dapat bergerak kencang. Bahkan berkisar 10 kilometer per jam karena kondisi jalan yang sempit dan rusak parah. Jarak 17 kilometer pun ditempuh satu jam 30 menit.


Selepas melewati Jembatan Semuntai yang diresmikan Presiden Soeharto, kondisi jalan relatif lebih baik meski masih terdapat lubang berukuran besar. Sekitar pukul 12.00 WIB, rombongan tiba di PL Menyurai, Kota Sintang. Disambut oleh Manajer Rayon Sintang, Gurit Bagaskoro. Sintang digadang-gadang sebagai calon ibu kota provinsi baru, Kapuas Raya.

PL Menyurai masih menggunakan mesin pembangkit usia tua untuk mendukung keandalan sistem. Diantaranya mesin SWD, buatan tahun 1986, dengan kemampuan 520 kilo Watt (kW).



Lokasi PLTU Sungai Ringin, sekitar tiga kilometer dari Jalan Pontianak - Sintang. Jalan masih berupa tanah merah. Realisasi PLTU Sungai Ringin masih 56 persen. Namun, menurut Koordinator Proyek UPK Kalbar III, PLTU Sungai Ringin, Yogi Yohannes Siburian, potensi penghematan kalau pembangkit tersebut beroperasi mencapai Rp431,25 miliar per tahun.


"Asumsinya, biaya pembelian bahan bakar minyak untuk mesin pembangkit di Sintang Rp10 ribu per liter, dengan kebutuhan BBM per hari 75 ton," kata Yogi Yohannes.


Biaya pembelian batubara untuk PLTU Sungai Ringin berkisar Rp54,4 miliar per tahun, dengan asumsi satu ton batubara 50 dolar AS.


Menjelang sore, rombongan kembali ke Sanggau dan harus menghadapi jalan rusak antara Semuntai - Sanggau. Sekitar pukul 20.30 WIB, Hotel Safira menjadi tempat beristirahat sebelum Kamis (18/4) melanjutkan perjalanan ke rute terakhir, yakni meninjau PLTGB Tayan, Kabupaten Sanggau.


Pukul 09.00 WIB, rombongan meninggalkan Hotel Safira Sanggau, menuju PLTGB Tayan. Lokasinya tak jauh dari Simpang Ampar, yakni simpang tiga arah Pontianak, Tayan dan Sosok. Memasuki jalan menuju Tayan dari Sosok, puluhan kilometer kondisinya rusak, berlubang-lubang dan berdebu.


Badan pun serasa terhempas di gelombang. Tercatat tiga truk yang rusak di sepanjang ruas jalan tersebut. PLTGB Tayan berkapasitas 6 MW digawangi anak muda asal Jerman, Raphael Litzinger. Pria berusia 29 tahun itu, menjabat sebagai pimpinan proyek dari AHT Services GmbH, yang membangun PLTGB Tayan.


Ralph menjelaskan, teknologi gasifikasi batubara asal Jerman yang digunakan itu, terbilang pertama kali di Indonesia. Di Jerman, lanjut dia, teknologi serupa sudah diterapkan namun dalam skala yang lebih kecil dan terpisah-pisah.

Gasifikasi batu bara merupakan sebuah proses untuk mengubah batu bara padat menjadi gas batu bara yang mudah terbakar (combustible gases). Setelah proses pemurnian, maka gas-gas ini yakni karbon monoksida (CO), karbon dioksida (CO2), hidrogen (H), metan (CH4), dan nitrogen (N2), dapat digunakan sebagai bahan bakar.


Gasifikasi batu bara secara nyata mempunyai tingkat emisi udara, kotoran padat dan limbah terendah. Raphael menambahkan, gas yang dihasilkan setelah proses pemurnian itu, melewati beberapa kali penyaringan. "Sehingga gas yang diperoleh sangat bersih, dialirkan melalui pipa utama menuju mesin pembangkit," kata dia.

Ia menargetkan pertengahan tahun ini PLTGB Tayan sudah dapat beroperasi dan masuk ke sistem kelistrikan PLN. PLTGB Tayan pun mengakhiri rute perjalanan panjang rombongan sebelum kembali ke Pontianak


Bagaimana Distribusi?

Dari segi pembangkitan, PLN diharapkan makin andal beberapa tahun mendatang. Namun tanpa didukung sistem distribusi yang baik, maka energi listrik yang dihasilkan tak tersalurkan dengan maksimal.


Manajer Area Pengatur Distribusi dan Penyaluran PLN Wilayah Kalbar, Riduan mengatakan, gangguan eksternal terhadap distribusi listrik yang kerap terjadi di Kalbar adalah layang-layang menggunakan kawat.


Pihaknya pernah mencatat terjadi beberapa kali black out (BO) karena pengaruh layang-layang menggunakan kawat. Tali kawat yang menyentuh kabel transmisi 150 kV yang dimiliki PLN akan menyebabkan hubung singkat. Pengaman di jaringan distribusi akan bekerja memutus beban. Kondisi ini pula yang dapat merusakkan mesin pembangkit karena berhenti tiba-tiba ketika beban tengah penuh.


PLN akan membangun semacam "loop" untuk sistem transmisi dan distribusi di Sistem Khatulistiwa. Yakni dengan menghubungkan Gardu Induk di Kota Baru Pontianak dengan Gardu Induk Parit Baru dan Sungai Raya.


Selain itu, membangun transmisi dari Singkawang - Bengkayang - Ngabang. PLN berencana membeli listrik dari Sarawak mulai 1 Januari 2015. Energi listrik disalurkan menggunakan transmisi berkapasitas 275 kV dari Sarawak ke Bengkayang. Saat ini tengah disiapkan lahan untuk tapak tower.


"Kalau ini terwujud, sistem kelistrikan PLN akan makin andal," kata Riduan yakin.


Di Sintang, PLN menyiapkan tim khusus dibantu mitra kerja lokal untuk mengatasi gangguan di sistem distribusi maupun di tingkat pengguna di wilayah perbatasan dan terpencil.


Manajer PLN Rayon Sintang, Gurit Bagaskoro mengakui dengan luas wilayah dan keterbatasan personel, dapat menghambat kinerja PLN dalam menangani kerusakan di jaringan maupun konsumen.


"Untuk menambah personel atau meningkatkan fasilitas dan jumlah unit pelayanan, bagian dari program jangka menengah atau panjang di PLN Rayon Sintang," kata Gurit Bagaskoro.


Sementara untuk jangka pendek, pihaknya melibatkan mitra kerja dari instalatir yang siap terutama mampu bekerja di jaringan dan gardu. "Ada dua instalatir yang kami gandeng, dan satu cadangan," katanya.


Ia mengungkapkan, di Kabupaten Sintang setidaknya ada 30 instalatir. "Tapi yang siap untuk bekerja di jaringan dan gardu, hanya dua instalatir ditambah satu cadangan," kata dia.


Biaya kerja dihitung dari kegiatan yang dilakukan oleh mitra kerja ketika terjadi gangguan.


Meski mengalami berbagai keterbatasan, namun ia bertekad kalau terjadi gangguan di wilayah yang terpencil, pemadaman tidak berlangsung lama. "Setidaknya satu hari satu malam itu sudah paling lama," katanya.


Analis Komunikasi Divisi Humas dan Komunikasi PLN Wilayah Kalbar, Hendra yang menemani perjalanan mengatakan, PLN ingin semakin mendekatkan diri ke masyarakat serta bersikap transparan. "Kami ingin menunjukkan bahwa PLN juga milik masyarakat. Apa yang kami lakukan, juga untuk masyarakat," kata Hendra.


Ikut dalam rombongan jurnalis yakni dari Tribun Pontianak, Borneo Tribun, Rakyat Kalbar, KCTV, PonTV, TVRI Kalbar dan RRI Pontianak. Sedangkan dari PLN Wilayah Kalbar, selain Hendra juga Staf Ahli General Manajer PLN Kalbar, Achmad Ismail dan staf humas Uray Juliansyah.

1 komentar:

  1. Terima kasih postingan nya sangat bermanfaat sekali. Selanjutnya saya mau menanyakan status perkembangan PLTGB Sanggau 6 MW saat ini, apakah sudah berproduksi secara komersil ?. Bolehkah saya mendapatkan informasi lebih detail mengenai PLTGB tersebut melalui personal yang Bapak/Ibu punya ? terima kasih.

    Salam,
    Prima Zuldian (zuldianprima@gmail.com)

    BalasHapus